"Jangan (hanya) melihat ketaatan seseorang dalam beribadah seperti sholat, tapi lihatlah (juga) bagaimana ia dalam memegang amanah dan peduli terhadap tetangganya."
Yap, rasanya hal itu merupakan salah satu insight yg saya dapatkan dari sharing knowledge dan value oleh para pemateri di dalam kelas. Mereka, para pemateri, merupakan orang-orang yg hebat di bidangnya masing-masing. Dengan pengalaman, pengetahuan, capaian, serta nilai yg dimiliki, mereka mampu memberikan inspirasi pada saya dan rekan-rekan lainnya.
Tapi, apa sih sebenarnya maksud dari pernyataan di atas tersebut?
Nah, mari kita coba bahas secara singkat.
---
Islam sebagai sebuah agama telah mengatur para pemeluknya untuk dapat menyeimbangkan aspek ibadah dengan Allah, sang khaliq, maupun dg makhluk atau manusia lainnya. Artinya, seorang muslim diharapkan tidak hanya taat beribadah secara individu namun juga memiliki kepedulian sosial yg tinggi.
Kalau mau kita tilik sedikit, mari kita cermati lima pilar penopang agama yg termasuk ke dalam rukun Islam. Pasti sudah tau semua kan ya? :p
Dari kelima rukun tersebut, ternyata beberapa di antaranya memiliki aspek sosial atau hubungan dg manusia lainnya, tidak hanya mengatur hubungan dengan Sang Pencipta.
Syahadat misalnya. Dengan mengakui bahwa Allah lah Tuhan yg berhak disembah dan Muhammad adalah utusan-Nya, seorang muslim seharusnya menganggap bahwa dirinya sama, sederajat dengan manusia-manusia lainnya. Tidak boleh membedakan satu sama lain, apalagi merendahkan. Yap, hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari ber-Islam-nya seseorang. Mengakui bahwa semua manusia merupakan hamba yg tidak ada bedanya di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.
Berikutnya adalah zakat. Salah satu rukun yg sering dilupakan oleh para muslim ini memiliki nilai sosial yg begitu tinggi. Dengan memberikan sebagian (kecil) harta mereka kepada orang yg tidak mampu, seorang muslim diharapkan terasah kemauannya untuk terus saling berbagi untuk sekitarnya.
Tapi tidak sampai di situ, filosofi dari zakat adalah mengangkat kesejahteraan secara jangka panjang (pemberdayaan). Artinya, para mustahiq setelah menerima bantuan dana zakat sebenarnya diharapkan untuk dapat menopang kebutuhannya secara mandiri. Maka seperti yg kita ketahui pada zaman kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, zakat mampu menciptakan sebuah tatanan masyarakat yg di dalamnya tidak lagi ada orang yg mau menerima dana zakat karena sudah dapat mandiri secara finansial.
Betapa tinggi bukan aspek sosial dari salah satu rukun Islam ini? Namun sayangnya semangat ini sering sekali diabaikan.
Nah, kedua rukun tersebut rasanya cukup menjelaskan mengapa seorang muslim dituntut memiliki kepedulian sosial yg tinggi. Implementasinya tidak melulu melalui zakat dan infaq, namun bisa yg lainnya. Membantu tetangga, menjawab salam, memberikan senyuman, maupun mengajarkan pengetahuan misalnya, hal-hal tersebut jg merupakan ibadah yg bertujuan menjaga hubungan dg manusia lainnya. :)
---
Tulisan ini dibuat utamanya sebagai pengingat bagi diri sendiri. Semoga kita senantiasa memiliki kepedulian terhadap lingkungan di sekitar kita. :)
boleh nambahin Kak?
BalasHapussholat juga mengandung aspek sosial, terutama saat sholat berjamaah. puasa juga membuat kita bisa sama-sama merasakan lapar dengan saudara kita. pun dengan haji yang juga mengandung aspek sosial, karena di sana kita akan bertemu dengan orang dari segala penjuru dunia. CMIIW :)
Terima kasih tambahannya. :)
HapusYang di atas hanya contoh yg sering dilupakan orang-orang kebanyakan. Wallahu'alam.