Minggu, 25 November 2012

Jurnal Harian 3: Perbedaan

Tampaknya memelajari ilmu fiqih tak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat, apalagi satu hari saja. Begitu pun dengan fiqih zakat. Pada hari ketiga in-class training, kami mendapati lagi materi mengenai fiqih zakat dijelaskan di dalam kelas. Padahal tepat sehari sebelumnya, materi tersebut sudah disampaikan kepada kami walau oleh pemateri yang berbeda.

Namun uniknya, ternyata ada beberapa pandangan yang cukup berbeda (tidak mesti bertentangan) dari kedua pemateri pada kedua hari tersebut. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu memersoalkan ini, malah rasanya beruntung dapat mengambil dua perspektif yang berbeda akan satu hal yang sama. :)

---

Ini mengenai muallaf. Seperti yang tercantum di dalam Qur'an, muallaf merupakan salah satu golongan dari delapan ashnaf (mereka yang berhak menjadi penerima zakat). Tujuan pemberian zakat terhadap muallaf adalah untuk menguatkan keimanan mereka ketika telah memutuskan untuk masuk ke dalam Islam. Yah, karena sangat mungkin mereka tidak lagi mendapat dukungan sosial maupun materi dari kaumnya yang bukan pemeluk agama Islam.

Salah seorang peserta pelatihan bertanya, "Sejauh mana seseorang dapat dikatakan sebagai muallaf?"

Pemateri pertama menjawab, "Muallaf itu ya batasannya ketika mereka telah mengucap syahadat dan memeluk agama Islam. Jika belum menjadi seorang muslim, maka mereka tidak layak untuk mendapatkan zakat dari para muzakki."

Pemateri kedua menjawab, "Muallaf itu bisa merupakan orang yang baru saja memeluk agama Islam ataupun non-muslim yang (sangat) memiliki potensi untuk masuk ke dalam Islam. Bisa jadi zakat yang diberikan menjadi penguatan bagi mereka atas keyakinannya. Selain itu, termasuk juga para muallaf yang telah memeluk agama Islam, namun dalam perjalanannya keimanan mereka melemah."

---

Potongan cerita tersebut hanya salah satu contoh perbedaan pandangan yang disampaikan oleh kedua pemateri yang berlainan. Bukan untuk mengumbar, tapi sekedar berbagi pengalaman. Saya yakin perbedaan semacam ini nantinya akan sering kita jumpai dalam keseharian kita. Persoalannya adalah bagaimana kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana. :)

Wallahua'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar