Hari ini merupakan hari pertama saya mendapatkan materi di kelas yang sesungguhnya, literally. Mengapa bisa dibilang begitu? Yah, sebenarnya karena dua hari sebelum ini, materi diberikan di dalam ruang aula ataupun ruang rapat yg biasanya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar.
Ah iya, sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya saya menjelaskan kegiatan apa saja yang saya lakukan dalam beberapa hari terakhir ini. Pasti pada penasaran kan? Hoeks.
---
Jadi begini, terhitung Selasa kemarin, tanggal 21 November 2012, saya mulai menapaki lembaran baru dalam kehidupan saya, yaitu meniti karir di suatu lembaga zakat profesional dalam negeri. Untuk memiliki kompetensi dan pengetahuan yg mumpuni sebagai agen dari lembaga tersebut, saya dan beberapa rekan lainnya perlu menjalani masa training selama kurang lebih satu tahun.
Nah, jadi materi yg saya maksud di awal tadi adalah materi-materi yg berhubungan dengan zakat serta pengelolaannya.
---
Jujur saja, hari ini materi yg diberikan tentang fiqih zakat cukup membuat saya puyeng. Kenapa? Karena ternyata ada aturan main yg begitu terperinci mengenai zakat dan pembayarannya. Misalnya, apa itu zakat, kapan perlu dibayarkan, kriteria apa yg menjadikan seseorang itu wajib zakat, apa bedanya dengan infaq dan shodaqoh, dsb dsb.
Yah, awalnya sih saya hanya tahu bahwa zakat itu besarannya 2.5% dari harta yg dimiliki tanpa detail lebih lanjut. Padahal, tidak semudah itu juga ternyata. Haha. Mengenai ringkasannya, mungkin lain kesempatan akan coba saya susun. Itupun kalau sudah benar-benar paham. Yosh!
Walaupun kl coba saya ingat-ingat, bab tentang zakat rasanya sudah pernah dipelajari saat masih berada di sekolah menengah atas. Tapi entah kenapa, ingatan-ingatan itu menguap tak berbekas dari kepala.
Harap saya, semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya dalam memahami apa yang akan menjadi perbekalan inti saya sebagai seorang amil profesional. :)
---
Sebagai penutup, di samping pengetahuan baru yg diperoleh, setidaknya ada beberapa insight yg dapat dipetik dari apa yg saya dapatkan di kelas. Antara lain:
1. Pentingnya melakukan pencatatan keuangan pribadi. Hal ini nantinya akan memudahkan saat kita menghitung berapa jumlah zakat yg perlu ditunaikan. (Berdasarkan refleksi seorang teman)
2. Pentingnya menguasai dasar-dasar fiqih zakat sebagai seorang amil. Alasannya, agar dapat menjawab pertanyaan orang-orang di sekitar kita. Biasanya, begitu orang lain tahu bahwa kita bekerja di sebuah lembaga zakat (apapun bidang/divisinya), pertanyaan-pertanyaan seputar zakat tak dapat terhindarkan, kapanpun dimanapun.
3. Pentingnya berpikir secara kreatif maupun makro dalam menanggapi isu zakat nasional. Potensi zakat dalam negeri yg begitu besar akan dapat dioptimalkan jika terjadi sinergi dari berbagai pihak dalam pengelolaannya. Pun jangan lagi memandang bahwa zakat hanya sekedar karitas sesaat saja.
4. Terakhir, pentingnya senantiasa mengikhlaskan diri dalam belajar maupun bekerja. :)
Semangat athaaa, akan sangat berguna pengetahuan ini kalau sudah berkeluarga, biar nafkah lo berkah #asek hahaha
BalasHapus