Bismillah.
Seusai menunaikan ibadah shalat ashar di masjid, seseorang berjalan menghampiri saya dan menyodorkan tangan kanannya tanda mengajak bersalaman. Tentu tanpa berpikir panjang, ajakan bersalaman itu pun langsung saya terima.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ucapan salam dan jabat tangan itulah yang memulai diskusi hangat kami, saya dan seorang lelaki paruh baya yang menghampiri saya, pada sore hari yang sejuk itu. Selidik punya selidik, ternyata orang yang mengajak saya bersalaman dan tampak ingin meluangkan waktunya untuk berdiskusi itu bernama Jamal. Dia dan beberapa kawannya memiliki aktivitas menarik dalam kesehariannya. Mereka biasa singgah dari masjid ke masjid dengan tujuan untuk belajar dan mengajarkan suatu pemahaman terhadap Islam. Jamal mengaku bahwa memang hanya itulah kegiatan yang biasa dia dan teman-temannya lakukan. Dua tiga hari menetap di satu masjid, keesokan harinya pergi ke daerah lain. Semata-mata dia lakukan ini semua untuk berdakwah di jalan-Nya, begitu yang saya dengar dari ucapannya.
Setelah berdiskusi dalam waktu yang singkat namun cukup bermakna, saya meminta izin untuk pamit karena ingin pulang ke rumah. Namun, ada beberapa kalimatnya yang menarik perhatian saya hingga sekarang.
"Umat Islam saat ini memiliki keyakinan yang kurang terhadap Allah, terhadap agama mereka saat ini. Mungkin mereka memang percaya dengan agama yang mereka anut, tapi untuk yakin, banyak sekali yang belum mencapainya. Antum tahu perbedaan yakin dan percaya?"
"Kita andaikan ke dalam sebuah pertunjukan sirkus dimana ada seorang pelempar pisau yang harus mengenai target yang dipasang di atas kepala seorang asistennya. Pelempar pisau tersebut akan ditutup matanya sehingga dia tidak dapat melihat target bidikan pisaunya."
"Mungkin ketika ditanya orang lain, apakah antum percaya bahwa pelempar pisau tersebut dapat mengenai targetnya tanpa melukai tubuh sang asisten? Saya yakin antum dan kebanyakan orang pasti percaya. Namun ketika antum diminta untuk menggantikan posisi sang asisten, pasti antum akan berpikir seribu kali dulu sebelum berani mengiyakan. Nah, itulah bedanya percaya dan yakin."
Sebuah analogi yang sederhana namun dapat membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, khususnya pada diri sendiri. Sudah sampai di tahap manakah saya? Masih sekedar percaya atau sudah yakin akan kebenaran yang dibawa Islam ini?
Keyakinan insya Allah dapat terwujud dari implementasi rasa percaya yang ada pada diri setiap manusia, rasa percaya yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.
*Berdasarkan kisah nyata, dengan revisi seperlunya.
Sekedar sharing, mungkin tolong dikoreksi bagi yang lebih paham. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar