Minggu, 23 Agustus 2009

Kekhusyukan dalam Shalat

Seorang sahabat berkata pada Rasulullah tentang shalatnya. Ketika itu Rasulullah sedang berada di tengah para sahabatnya. Di antaranya ada Ali bin Abi Thalib.

"Ya, Rasulullah. Setiap kali shalat, saya tidak bisa khusyuk dari awal sampai akhir. Saya selalu ingat akan urusan-urusan dunia dalam shalat saya. Kadang-kadang saya ingat akan persoalan yang belum terselesaikan. Kadang-kadang saya juga ingat akan utang piutang saya." kata sahabat itu.

"Tidak ada orang yang bisa khusyuk sepenuhnya sejak awal hingga akhir." kata Rasulullah.

"Saya bisa ya Rasulullah." kata Ali bin Abi Thalib..

"Betul kamu bisa?" tanya Rasulullah.
"Betul."
"Kalau memang betul kau bisa khusyuk dari awal hingga akhir, akan kuberikan surbanku yg paling bagus sebagai hadiah."

Ali bin Abi Thalib lalu shalat sunnah dua rakaat. Ia tampak khusyuk sekali..

"Bagaimana?" Apa kau bisa khusyuk sejak awal sampai akhir?" tanya Rasulullah setelah Ali bin Abi Thalib selesai shalat.

Wajah Ali tampak murung..

"Sejak rakaat pertama sampai kedua saya bisa khusyuk sekali. Demikian juga ketika sujud yang terakhir hingga duduk tasyahud. Tetapi ketika hampir salam,, pikiran saya berubah, ya Rasulullah. Saya teringat akan janji Anda untuk memberi saya hadiah surban yang paling bagus. Jadi rusaklah kekhusyukan saya."

"Demikian juga orang lain." kata Rasulullah.. "Kekhusyukan shalat itu diukur oleh Allah sebatas kemampuan manusia. Kalau dalam shalat pikiranmu terbawa ke arah lain,, segera kembalikanlah kepada shalatmu.. Dalam menjalankan ibadah hendaknya seolah - olah kita melihat Tuhan. Kalau tidak bisa,, hendaknya kita ingat bahwa Tuhan selalu melihat kita.. Itu sudah memadai."

Itu nasihat Rasulullah kepada para sahabat yg bisa kita ikuti sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Dalam shalat hendaknya kita ingat bahwa Allah SWT senantiasa melihat kita. Maka,kerjakanlah shalat dengan bersungguh - sungguh.

Wallahua'lam bisshawab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar